Mantra Super Sakti : Man Jadda Wa Jada
https://onani-crot.blogspot.com/2012/03/mantra-super-sakti-man-jadda-wa-jada.html
Alif yang berasal dari tanah minang
di Danau Maninjau, Sumatera Barat harus merantau ke Pulau Jawa dengan
kendaraan bus antar pulau selama perjalanan membawa kisah tentang
perjuangan anak muda dari kampung untuk meraih pendidikan tinggi.
Perjuangan ekonomi orang tuanya yang sengaja
menjual kerbau satu-satunya untuk membantu bertani di sawahnya memacu
semangat Alif untuk terus belajar. Kisah film yang diawali dengan
pemandangan Danau Maninjau membawa pemirsa melihat keelokan alam Danau
Maninjau. Agak unik cara penjualan kerbaunya di pasar tradisional dengan
cara menawar harga di dalam sarung penjual.
Film yang mengambil cerita dari novel yang
berjudul Negeri 5 Menara karangan Ahmad Fuadi ini mengambil setting
cerita di pondok pesantren. Penonton sengaja diajak untuk mengenal
kehidupan pesantren dengan peraturan yang tidak biasanya seperti di
sekolah umum.
Saya sengaja mengajak anak saya untuk khusus menonton film Negeri 5 Menara agar mempunyai inspirasi prinsip man jadda wa jada
yang berarti “bila bersungguh-sungguh pasti akan berhasil,”. Film yang
berkisah tentang Alif yang ingin bersekolah di Bandung tetapi akhirnya
harus menuruti kemauan orangtuanya bersekolah di pesantren. Memiliki
pengaruh kuat untuk menginspirasi kita untuk selalu berusaha berjuang
menghadapi tantangan hidup dan arti nilai persahabatan di antara teman
dalam suka dan duka.
Saya lalu memberi semangat kepada ketiga
anak-anak saya untuk selalu mempunyai prinsip dalam belajar, bersekolah,
menuntut ilmu, mengembangkan talenta dan bekerja nantinya untuk selalu
membaca mantera “man jadda wa jada.”
Kisah persahabatan antar teman sekamar di
pondok pesantren berawal dari janji dibawah Menara 5 di areal Pondok
Madani yang memberi mereka semangat untuk memegang janji akan bertemu di
kota-kota impian mereka. Semangat dari nilai persahabatan ini membawa
mereka bekal untuk belajar dengan serius mencapai cita-cita meraih
sukses.
Sangat mengharukan ketika salah seorang teman
yang bernama Baso, dari Gowa, Sulawesi Selatan harus pulang sehingga
tidak bisa menyelesaikan pendidikannya di Pondok Madani karena harus
merawat neneknya yang pernah merawatnya karena dia sendiri sudah yatim
piatu. Perpisahan mereka sambil saling berpelukan erat di kamar sangat
mengharukan sampai saya yang menonton filmnya mengusap air mata.
Setting lokasi cerita di tempat aslinya
Pondok Pesantren Gontor, Ponorogo, Jatim membuka mata anak saya yang
menonton film ini untuk mengetahui kehidupan anak-anak yang menuntut
pendidikan di pesantren sangat berbeda dengan sekolah umumnya. Mereka
jadi mengetahui peraturan tidak boleh menonton televisi, sholat harus
tepat waktu pas azan di masjid dan mendapat pelajaran Islami.
Suasana kamar yang tanpa tempat tidur
sehingga murid-murid pesantren tidur di kasur tipis di lantai membawa
cerita tentang keserdehanaan dan keprihatinan. Malam hari lampu mati
terpaksa membaca buku sebelum tidur harus dengan lampu templok. Sangat
memberi teladan untuk mengajari penonton muda belajar hidup sederhana.
Arti persahabat bagi Alif yang bersahabat
dengan Raja dari Medan, Said dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep, Atang
dari Bandung dan Baso dari Gowa. Membawa mereka untuk sering
duduk-duduk dibawah menara masjid sambil menunggu azan sholat. Suasana
humor di antara sahabat juga terekam dalam adegan saling menjewer kuping
temannya karena dihukum pak ustadz gara-gara terlambat datang untuk
sholat jamaah di masid.
Suatu hari di kala langit biru awan putih
berarak seperti kapas membentuk gambar benua dunia, masing –masing
sahabat itu saling menunjuk langit dan melihat kota-kota impian mereka
di lima benua berada di awan seputih kapas itu.
Janji dibawah menara masjid di lingkungan
Pondok Madani untuk bertemu lagi kelak di lima kota benua berbeda
menjadi klimaks film ini yang menghantarkan mereka untuk menggantungkan
cita-cita setinggi langit hingga akhirnya benar-benar bertemu di
kota-kota impian mereka. Pertemuan antar sahabat di Kota London, Inggris
membawa film ini ke arah kesuksesan alumni pesantren. Sangat kontras
kehidupan setelah di London dengan kehidupan selama belajar di
pesantran.
Pada akhirnya, mereka menjadi sahabat
yang sukses dalam mencapai cita-cita yang telah dijanjikan dibawah
menara masjid di Pondok Madani. Alhamdulillah. (Asita Suryanto)
Sumber : Kompasiana.com
