Manusia dan Harta Kekayaan

Manusia diciptakan Allah untuk mengemban amanah yang disandangnya sebagai khalifah di muka bumi ini, sebagaimana dijelaskan dalam QS Al-Baqarah: 30. Khalifah berarti pemimpin, pengelola, pembina. Mengelola potensi diri untuk bertahan hidup secara bijak dalam rangka mengabdi pada Allah semata.

Itulah orientasi hidup seorang mukmin dalam menjalankan tugasnya.
Islam sudah memberikan petunjuk dan pedoman hidup (role of game) kepada manusia agar berimbang antara kemaslahatan dunia dan akhirat demikian yang difirmankan Allah dalam surat Al-Qhasas: 77
"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan".

Ketika manusia hidup di dunia, maka tidak akan terlepas dari persoalan bagaimana bisa mempertahankan keberlangsungan hidup? Sebagian orang menjawab dengan uang, harta, ya demikian umumnya jawaban itu terlintas. Tidak salah memang, al-Quran pun menyebutkan kata maal (Harta) tidak kurang dari 86 kali.

Artinya, ketika penyebutan kata yang berulang-ulang dalam Al Quran mengindikasikan betapa pentingnya hal tersebut.


Karena naluri manusia untuk memiliki, memperoleh, dan memanfaatkan harta adalah sesuatu yang lazim untuk memenuhi kebutahannya yang primer ataupun sekunder. Al Quran memandang harta sebagai sarana untuk manusia mendekatkan diri kepada Allah.

Ketika manusia diberikan keberlimpahan harta, maka sudah sepatutnyalah bersyukur atas karunia yang Allah berikan. Ini harusnya menjadi motivasi manusia untuk tetap istiqomah dalam mengemban amanahNya, karena pada hakekatnya status harta yang kita miliki adalah amanat Allah untuk dipergunakan sebagaimana mestinya dengan petunjuk penggunaan dan pengelolaan harta sesuai syar'iat.

Al maal (Harta) atau jamaknya Al amwaal (Kamus Munawwir, 1984) meliputi segala sesuatu yang dimanfaatkan oleh manusia untuk mencukupi kebutuhannya sehari-hari, seperti rumah, kendaraan, perhiasan, uang, hasil bumi, dan sebagainya.

Harta adalah sarana untuk menggapai kebaikan dunia dan akhirat, Rasulullah pun pernah mendengar sahabatnya ketika berdoa seraya berkata "Ya Allah Jadikanlah aku sebagai pemberi zakat yang banyak", pernyataan ini memberi pengertian kuantitatif ketika kita banyak mengeluarkan zakat secara otomatis kepemilikan harta sangat dominan, dan nabi Sulaiman pun pernah berkata "Jadikanlah aku orang terkaya sepanjang masa" doa tersebut dikabulkan Allah dan nabi Sulaiman menjadi orang terkaya.

Ketika berbicara harta, maka kita sedang berbicara bagaimana mendapatkan harta tersebut?. Banyak diantara manusia yang menghendaki kepemilikan dengan cara dan jalan apapun tanpa mengindahkan halal dan haram, baik dan buruk yang terpenting bagaimana mereka tercukupi segala kebutuhannya. Hidup di dunia membutuhkan sarana untuk mencapai tujuan, tapi tujuan tersebut harus kita raih dengan usaha yang thayyib dan halal (QS. Al-Baqarah: 172) demikian Allah memberi pedoman kepada umat manusia.

Berupaya dan ikhtiar untuk mendapatkan harta adalah kewajiban setiap manusia untuk keberlangsungan hidup di dunia dalam rangka ibadah kepada Allah SWT, karena hamba Allah akan memposisikan Ikhtiar, bekerja, sebagai bentuk ibadah kepadaNya, sebagaimana firman Allah:
"Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan" (Q.S Al Mulk: 15).

Jika kita memahami ayat diatas betapa Allah SWT menjadikan dunia ini hunian yang nyaman bagi manusia, segala sesuatu yang dibutuhkan dalam rangka keberlangsungan hidup tersedia dan mudah untuk diakses, karena Allah telah menjamin rezki semua umat manusia.

Setiap manusia yang terlahir ke dunia sudah disiapkan rezekinya bahkan sebelum Allah menciptakan bumi dan langit beserta isinya (HR Muslim). Abu Darda pernah mendengar bahwa Rasulullah SAW bersabda:
Sesungguhnya rezki mencari hamba lebih banyak daripada ajal mencarinya”.

Kewajiban sebagai umat muslim hanyalah berbuat kebajikan diiringi ikhtiar untuk mencari rizki yang halal dan baik, hasilnya tawakallah kepada Allah SWT, Dia pasti akan membalasnya dengan kehidupan yang menentramkan hati dan pahala yang baik (QS An Nahl: 97).

Kemajuan industri dan informasi yang dirasakan saat ini relatif mudah diakses dan ini merupakan pintu masuk untuk memanfaatkan peluang kerja untuk memenuhi kebutuhan finansial. Potensi untuk berkompetisi mendapatkan kesempatan tersebut dilalui dengan berbagai cara ditempuh, sebagian patuh dengan aturan yang ditetapkan sesuai Standar Operational Prosedure, sebagiannya lagi berupaya dengan cara yang bathil dan instant.

Itulah fenomena yang terjadi saat ini dengan berbagai cara mereka lakukan, demikian itu yang Allah larang untuk tidak merusak tatanan hidup, dan Islam telah menuntun secara komprehensif bagaimana semestinya kita berbuat dengan kehidupan ini, ingat kehidupan dunia hanya sesaat dan akan dipertanggungjawabkan semua apa yang kita perbuat, Allahu a'lam.

*Penulis merupakan Wakil Ketua Pusat Matrikulasi STEI Tazkia

Sumber : detik.com

Related

Wanita & Keluarga 2387281201064777822

Follow Us

Connect Us

Side Ads

Text Widget

Info Pasang Iklan
KlikDisini !

Recent

Comments

Flag Counter

Social Community

item