Gagal Kuliah, Sukses Jadi Pengusaha
https://onani-crot.blogspot.com/2014/08/gagal-kuliah-sukses-jadi-pengusaha.html
Lima merek produknya adalah Ina
Cookies, Kersen Cookies, JnC Cookies, La Difa Cookies, dan Valya. Khusus merek
La Difa dan Valya membidik segmen premium. Kedua brand itu juga sudah diekspor
ke Malaysia, Hong Kong, dan Kanada.
Omzet rata–rata Rp 120 juta. Namun,
saat ada momentum seperti Natal, Imlek, dan Lebaran, omzetnya bisa mencapai Rp
200 juta.
Jodi yang kini berusia 27 tahun
mulai merintis bisnis tahun 2008. Bagi Jodi, bisnis kuliner sudah tidak asing.
Kebetulan, orangtuanya puluhan tahun menekuni bisnis ini.
Jodi berkisah, mula-mula orangtuanya
mencoba peruntungan dengan menjual jahe gajah, tapi bangkrut di tahun 1993.
Sejak itu, orangtuanya menjajal aneka bisnis kuliner lainnya, seperti berjualan
gado-gado, molen, hingga roti keliling.
Menurut Jodi, bisnis orangtuanya itu
hanya jalan di tempat. Ia teringat masa kecilnya selalu makan roti setiap hari
karena banyaknya roti yang tidak laku terjual.
Kondisi itu mendorongnya untuk
sukses di bisnis yang sama dengan orangtuanya. “Pas saya tamat SMA, saya
bertekad untuk membuka usaha yang lebih serius lagi,” ujar pria kelahiran 7
Januari 1987 ini.
Namun, keinginan itu sempat tertunda
karena orangtua memaksanya kuliah di Sekolah Tinggi Pariwisata di Bandung
mengambil jurusan Patiseri. Belum genap setahun belajar, Jodi dikeluarkan dari
sekolahnya. “Karena saya tidak memiliki minat di bidang itu,” ujarnya.
Setelah berhenti kuliah, Jodi juga
tidak langsung terjun di bisnis kue. Ia membantu mengelola kafe milik keluarga
dengan nama Bober Cafe. Baru di tahun 2008, Jodi mencoba peruntungan sendiri di
bidang kue kering. Kala itu, ia sama sekali tidak bisa membuat kue kering.
Untungnya orangtua, tante, dan
sepupunya mau membantu dengan menciptakan resep. “Jadi, kami bagi tugas. Mereka
yang membuat kue, saya yang urus dan keuangannya,” jelasnya.
Setelah mulai jalan, Jodi akhirnya
ikut membantu cari-cari resep baru. Saat ini, ia sudah memiliki pabrik
pembuatan kue di Bojong Koneng, Bandung, dengan 1.000 karyawan.
Untuk kue kering saja, kapasitas
produksinya dalam sehari mencapai 6 ton kue atau setara dengan 12.000 stoples.
Adapun kue yang habis terjual dalam sebulan 1,5 juta stoples.
Laku Sepanjang waktu
Biasanya, usaha kue kering identik
dengan usaha rumahan yang hanya marak ketika menyambut momentum tertentu,
seperti Lebaran. Namun, tidak demikian dengan Jodi.
Sejak awal terjun ke bisnis ini,
Jodi sudah bertekad menjadikan bisnis kue keringnya sebagai bisnis sepanjang
tahun. Sekalipun tidak ada momen hari-hari besar, seperti Lebaran atau Natal.
Berbekal tekad dan semangat itu
pula, bisnis kue keringnya bisa eksis sepanjang masa dengan omzet ratusan juta
per bulan. Sebagai pebisnis, Jodi memang memiliki semangat pantang menyerah
dalam membesarkan bisnis kuenya. Jodi juga tak ragu memulai bisnis ini kendati
saat itu minim pengalaman dan tak pernah mengenyam pendidikan tata boga.
Jodi mengaku tidak begitu berhasil
menekuni jenjang pendidikan formal. Ia sempat dua kali berhenti sekolah karena
memang tidak memiliki keinginan bersekolah. “Saya juga sempat kuliah di
Universitas Widyatama Bandung, lagi-lagi, saya dikeluarkan, ” katanya.
Jadilah, Jodi hanya belajar dari
pengalaman orangtuanya yang sudah puluhan tahun menekuni bisnis kuliner.
“Itulah yang menjadi modal utama saya di bisnis ini,” katanya.
Berbekal tekad yang kuat untuk
sukses di bisnis kue kering, Jodi pun tak berhenti belajar membuat kue dan
mencari resep baru. Sebagai pengusaha makanan, ia sadar pentingnya melakukan
inovasi.
Selain fokus pada kualitas produk,
Jodi juga pintar membangun relasi. Makanya, saat awal merintis bisnis, banyak
temannya yang mau menjadi investor untuk menambah modal usahanya. “Kami saling
percaya saja dan serius menjalani usaha,” kata dia.
Dari modal usaha yang berhasil
dikumpulkannya, ia lalu mengakuisisi dua industri rumahan kue di Bojong Koneng,
Bandung, tak jauh dari tempat tinggal orangtuanya.
Dua industri rumahan itu adalah Ina
Cookies dan J&C Cookies. Setelah diakuisisi, kedua industri rumahan itu
dilebur dalam satu bendera usaha miliknya, yakni PT Bonli Cipta Sejahtera.
Jodi juga merekrut masyarakat
sekitar pabriknya yang memang tidak memiliki pekerjaan. Awal mula merintis
bisnis, Jodi memutar otak agar kuenya bisa dikenal masyarakat dan bukan hanya
dinikmati saat Lebaran saja. Untuk memperkuat branding, ia lalu aktif mengikuti
pameran kue dan roti di daerah-daerah.
Jodi juga gencar melakukan promosi
lewat internet. “Pembelian bisa dilakukan lewat internet dan dikirim melalui
ekspedisi,” katanya.
Dari segi rasa, Jodi menjamin kue
kering buatannya dibuat tanpa bahan pengawet dan bisa tahan sampai tiga minggu.
Dari segi citarasa juga dijamin enak.
Saat ini, ia memiliki lima merek kue
kering. Sebanyak dua brand khusus membidik segmen premium. Kendati demikian,
bukan berarti kue-kue untuk masyarakat menengah bawah memiliki citarasa kurang
enak. “Semua produk rasanya beda-beda,” ujarnya.
Namun, khusus merek Valya dan La
Difa, kemasannya harus dibuat lebih menarik, harus cantik dan kelihatan ‘wah’.
“Jadi kalau dijadikan kado juga lebih cantik, ” kata dia.
